![]() Friendster Comments ![]() Kirimi aku selembar daun, Dari belukar yg tumbuh sejam setengah dari rumahmu Sudah itu kamu hrs pergi. Kamu akan kuat dan aku berterima kasih atas daun yang cantik -B. Brecht- Luckty Giyan Sukarno, itulah nama yang diberikan oleh orangtuaku. Ada pepatah bilang, apalah arti sebuah nama. Namun, bagi orangtuaku, nama adalah sebuah doa, sebuah harapan, sebuah cita-cita, dan kelak bisa menorehkan sejarah. Sukarno? Itu nama kekekku, aku tidak pernah melihatnya karena dia pergi sebelum aku hadir di dunia ini. Giyan? Itulah nama singkatan kedua orangtuaku. Aku pernah bertanya, apa arti luckty? Luckty adalah mutiara kecil. Mutiara kecil?? Filosofi dari mana ini?? Mutiara kecil bagi kami maksudnya, mamaku menjelaskan. Semoga, semoga saja harapan mereka benar, agar aku bisa menjadi mutiara kecil bagi mereka. Belum, mungkin sekarang aku belum bisa mewujudkannya. Tapi nanti, suatu hari nanti, aku pasti bisa membuktikannya. Walaupun…mama pergi sebelum aku mewujudkannya. Aku dilahirkan duapuluhdua mei, duapuluhdua tahun yang lalu, di kota kecil, Metro. Lebih tepatnya Metro Utara. Kota dimana aku dibesarkan. Kota yang menjadi saksi perjalananku selama aku mengenyam bangku sekolah; TK Aisyah Metro, SD Al-quran Metro, SLTP N 2 Metro, SMA 1 Metro. Kota di mana aku akan kembali setelah kuliah, bekerja dan melanjutkan hidup. Dan (mungkin) aku akan menemukan jodohku dan berakhirnya hidupku di kota ini pula. Aku adalah ranting yang terpisah dari pohonnya, ditancapkan di tanah agar bisa bertahan sendiri walaupun belum waktunya. Bahkan, aku harus melindungi tiga ranting kecil lainnya. Agar bisa berbuah di suatu hari nanti. Hidup itu berwarna, seperti pelangi yang mempunyai tujuh warna. Hidupku juga begitu, ada berbagai warna yang menghiasi hari-hariku. Hidupku yang dulunya bahagia, berubah seratus delapan puluh derajat saat aku kehilangan malaikatku, mama… Saat aku kehilangan malaikatku, aku kehilangan setengah jiwaku. Dan mulai saat itu, hidupku berubah, semangatku layu. Aku bertanya pada Tuhan: kenapa Kau ambil malaikatku? Itu yang terbaik baginya, jawabMu. Aku bisa bertahan seperti sekarang ini karena teringat setengah jiwaku yang lain; papa dan adik-adik. Aku mungkin boleh sedih, tapi sampai kapan aku akan berlarut-larut seperti ini?? Aku harus bangkit dan tersenyum menatap hangatnya matahari. Ranting-rantingku tak bisa tanpaku, setelah pohonnya pergi. Rantingku yang besar, tak bersemangat tumbuh. Layu dan kering, karena kurang air kasih sayang dan perhatian. Yang sanggup menyiraminya telah pergi, dan aku tak bisa menggantikannya, karena aku jugalah ranting, sama seperi dirinya. Setidaknya aku berusaha tumbuh tidak jauh darinya; agar tertiup angin, menghalau teriknya matahari dan tersiram hujan bersama-sama. Kemudian, rantingku yang paling kecil, juga butuh aku. Bukan yang lain, karena yang bisa menyembuhkan lukanya hanyalah aku. Luka yang teramat sakit. Akulah yang mengerti dan memahami lukanya. Aku berusaha menyembuhkan lukanya, walaupun aku sendiri juga terluka. Perlahan lukanya menutup. Saat aku mencoba bertahan hidup dengan setengah jiwa, aku kembali diuji oleh-Mu. Aku harus berbagi pohonku untuk pohon yang lainnya. Tuhan, tak pernah terbayang dalam hidupku ada pohon yang lain. Berbeda. Padi pun bilang, semua tak sama. Pohonku yang dulu begitu sempurna, dia seperti malaikat. Dan…rantingku yang paling kokoh tak mau menerima pohon baru, dia selalu membandingkan. Aku tak mau memaksanya. Karena aku memahaminya. Aku hanya berharap, suatu saat nanti rantingku yang paling kokoh ini, tumbuh dewasa bisa mengerti keadaan ini. Semuanya hanya butuh waktu, butuh proses. Itu saja. Dan, akupun bukan malaikat. Aku hanyalah manusia yang berusaha menjadi malaikat. Setidaknya bisa menjadi malaikat bagi ranting-ranting keciolku. Hmm..senja dan fajar..itulah yang selalu kutunggu setiap harinya..senja penutup hariku yang lelah..dan..esoknya fajar kembali datang menyambut mimpiku..mimpi? yup, mimpiku! Aku memiliki begitu banyak mimpi. Apa salah aku memilki banyak mimpi? “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” Arai -Edensor-. Ketika umurku 20, aku kehilangan setengah jiwaku. Ketika umurku 21, aku harus membagi jiwaku yg tersisa dgn yg lain. Ketika umurku 22, yg ku pny hanyalah teman. Apa yang terjadi di umurku berikutnya?? Kirimi aku selembar daun, Untuk menuliskan catatan kehidupan di duapuluhdua mei ini Kirimi aku selembar daun, Untuk menghapus kepedihanku di usia duapuluhdua tahun ini -Luckty- ![]() Comments kunjungi: Multiply: http://luckty.multiply.com/ Friendster: harisenja@gmail.com Facebook: luckty giyan sukarno ato emangkenapa_pustakawin@yahoo.com Email: emangkenapa_pustakawin@yahoo.com Blog: http://luckty.wordpress.com YM: emangkenapa_pustakawin ![]()
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Dari Bunuh Diri hingga Charity Friendship is born at that moment when one person says to another what you too? I thought I was the only one. –C.S. Lewis- Awalnya, kami sama-sama mengikuti perkembangan Bunuh Diri Massal 2008 yang ditulis oleh Fajar Nugros dan Alanda... more
(REVIEW) Trilogi WarnaKetika Ehwa bertambah besar, perasaannya terhadap laki-laki yang ditemuinya berubah dari sekedar naksir dan hasrat samar menjadi cinta. Lewat hubungannya dengan Duksam –dan campur tangan Master Cho yang menguji kekuatan hubungan itu- Ehwa belajar... more
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||










Friendship is born at that moment when one person says to another what you too? I thought I was the only one. –C.S. Lewis- Awalnya, kami sama-sama mengikuti perkembangan Bunuh Diri Massal 2008 yang ditulis oleh Fajar Nugros dan Alanda...